Kanapup
Bahasa Indonesia

Dasar bahasa Jepang

Pelafalan bahasa Jepang

Pelafalan adalah salah satu bagian paling bersahabat dari bahasa Jepang, apalagi bagi penutur bahasa Indonesia: lima vokal yang tidak pernah berubah dan nyaris sama dengan a, i, u, e, o kita, sekumpulan kecil konsonan, dan ritme yang stabil. Beberapa hal yang membuat pemula tersandung, vokal panjang, konsonan rangkap, dan "u yang tidak terdengar", semuanya terlihat dalam kana, satu alasan lagi untuk belajar hiragana daripada membaca romaji.

Lima vokal

Setiap suku kata bahasa Jepang berakhir dengan salah satu dari lima vokal (atau berupa n yang berdiri sendiri). Vokalnya pendek, murni, dan selalu sama, hampir persis seperti vokal bahasa Indonesia. Satu-satunya jebakan: tidak ada e pepet seperti pada "sepatu".

KanaRomajiSeperti dalam bahasa IndonesiaContoh
aa dalam "apa"
ii dalam "ini"
uu dalam "buku", tetapi dengan bibir lebih santai, tidak dibulatkan
ee dalam "sate" atau "enak", tidak pernah e pepet seperti dalam "sepatu"
oo dalam "toko", tanpa luncuran ke arah u

Konsonan yang perlu dicermati

Mora: ritme bahasa Jepang

Bahasa Jepang diatur dalam ketukan yang disebut mora, bukan dalam suku kata bertekanan. Setiap kana adalah satu ketukan dan setiap ketukan berlangsung kira-kira sama lama. (Tōkyō) adalah empat ketukan, to-o-kyo-o, bukan dua. Ritme bahasa Indonesia yang cenderung rata sudah menjadi modal yang bagus; yang perlu dijaga adalah menghitung vokal panjang dan っ kecil sebagai ketukan tersendiri, dan tidak memanjangkan suku kata kedua dari belakang seperti kebiasaan kita. Menjaga ketukan tetap rata adalah langkah terbesar untuk terdengar alami.

Vokal panjang

Vokal panjang hanyalah vokal yang ditahan selama dua ketukan, dan ia mengubah arti. Bahasa Indonesia tidak membedakan panjang vokal, jadi inilah hal baru yang paling perlu kamu latih. Dalam hiragana, ia ditulis dengan tambahan kana vokal (, , , dan setelah o: dibaca ō); dalam katakana, dengan garis . Romaji menandainya dengan garis di atas huruf: ō, ū.

PendekArtiPanjangArti
bibinenek
pamankakek
saljukeberanian
gedungbir

Konsonan rangkap: っ kecil

kecil adalah jeda satu ketukan sebelum konsonan berikutnya. Bahasa Indonesia sudah punya konsonan yang ditahan di akhir kata seperti pada "sakit" atau "sepak": bayangkan mengucapkan "sakit tangan" tanpa jeda, t di ujung "sakit" ditahan sejenak lalu baru dilepas pada "tangan". Romaji menggandakan hurufnya.

TanpaArtiDengan っArti
datangperangko
tanjakanpenulis
bunyisuami

u dan i yang "tidak terdengar"

Di antara dua konsonan tak bersuara (k, s, t, h, p) atau di akhir kata, u dan i dibisikkan begitu ringan sampai seolah menghilang. Karena itulah terdengar seperti "des", seperti "mas", dan (suki, suka) seperti "ski". Penutur bahasa Indonesia terbiasa membunyikan setiap vokal dengan jelas, jadi tahan diri untuk tidak mengucapkan "de-su" secara penuh; sebaliknya jangan pula dipotong habis, bibir tetap membentuk u. Tulis kananya lengkap, ucapkan dengan ringan.

Nada, bukan tekanan

Kata bahasa Jepang tidak punya suku kata bertekanan. Sebagai gantinya, tinggi nada suara naik atau turun di antara ketukan. Ini jarang menghalangi pemahaman, dan pola standarnya dipelajari lewat telinga: berarti jembatan bila nadanya naik, sumpit bila nadanya turun. Dengarkan sebanyak-banyaknya, tirukan, dan jangan memaksakan penekanan suku kata kedua dari belakang ala bahasa Indonesia pada kata-kata Jepang.

Jebakan romaji

Obat terbaik untuk semua ini adalah mendengar setiap kana diucapkan penutur asli lalu menirukannya, dan itulah persis yang dilakukan aplikasi untuk setiap huruf. Setelah itu, bacalah salam dan angka dengan suara keras.

Ikon aplikasi Kanapup

Berlatih dengan Kanapup

Setiap kana di aplikasi punya rekaman penutur asli. Ketuk, dengarkan, tirukan: bunyinya datang bersama hurufnya.